
Pasar yang penuh ketidakpastian tengah menjadi sorotan saat para trader menanti pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve (Fed). Data inflasi AS yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan hasil beragam dan meningkatkan kecemasan di pasar. Sementara itu, kekhawatiran terkait geopolitik dan China mendorong Dolar AS sedikit menguat, meskipun imbal hasil obligasi Treasury melemah.
Seiring menguatnya Dolar AS, harga emas turun ke level terendah dalam tiga minggu setelah melemah selama empat hari berturut-turut. Sementara itu, harga minyak mentah merosot ke level terendah sejak akhir Juni. AUDUSD mencatat penurunan terbesar di antara pasangan mata uang G10, disusul NZDUSD. EURUSD masih tertekan karena pernyataan ECB mengindikasikan kecenderungan dovish, sementara GBPUSD terbebani oleh serangkaian data ekonomi Inggris yang lemah.
Wall Street ditutup menguat dan mendorong kontrak berjangka saham AS naik tipis. Namun, saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak turun karena pasar kurang yakin dengan optimisme para pembuat kebijakan China dan data India yang beragam. Selain itu, ekspektasi tekanan harga yang kuat di Jepang dan Australia juga mendorong para pelaku pasar untuk mengambil risiko.
Di sisi lain, BTCUSD dan ETHUSD bertahan di level yang lebih rendah di tengah meredupnya optimisme terhadap aset kripto menjelang persetujuan ETF spot.
Berikut adalah pergerakan terbaru aset-aset utama:



Indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat dan membalikkan koreksi pada hari sebelumnya—koreksi pertama dalam tiga hari—karena data CPI AS belum mampu meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Indikator inflasi utama AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI), sesuai dengan perkiraan pasar, dengan angka 0,1% secara bulanan (MoM) dan 3,1% secara tahunan (YoY), dibandingkan dengan angka sebelumnya masing-masing 0,0% dan 3,2%. Sementara itu, CPI di luar Pangan & Energi, yang juga dikenal sebagai CPI Inti, sesuai dengan estimasi analis, dengan angka 0,3% secara bulanan dan 4,0% secara tahunan, dibandingkan dengan angka sebelumnya masing-masing 0,2% dan 4,0%. Selain itu, Indeks Optimisme Bisnis NFIB AS untuk November relatif tidak berubah di angka 90,6, dibandingkan angka sebelumnya 90,7. Sementara itu, defisit anggaran federal melebar menjadi $314 miliar pada November, dibandingkan $301 miliar pada Oktober.
Data yang beragam dan komentar Menteri Keuangan AS Janet Yellen sama-sama mendukung kubu dovish di Fed dan menekan Dolar AS. Mantan Ketua Fed Yellen berbicara kepada Nick Timiraos, pengamat Fed di Wall Street Journal (WSJ), dan mengatakan bahwa ia tidak melihat alasan kuat untuk menganggap tahap terakhir ini akan sangat sulit.
Di sisi lain, seorang pejabat Houthi memperingatkan, “Kapal-kapal yang berlayar melalui Laut Merah agar tidak mematikan radio dan segera merespons perintah yang diberikan Houthi.” Hal ini semakin memperburuk kekhawatiran geopolitik pasar dan menopang Dolar AS pada Selasa malam.
Konferensi Kerja Ekonomi Pusat tahunan China berakhir pada Selasa. Kesimpulan utamanya adalah dorongan para pembuat kebijakan untuk memberikan lebih banyak stimulus, serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan yang kuat. Sejalan dengan itu, Asian Development Bank (ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan China untuk 2023 menjadi 5,2%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,9%, sementara mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2024 di 4,5%. Selain itu, Han Wenxiu, Wakil Kepala Kantor Urusan Keuangan dan Ekonomi Partai Komunis China (CCP), juga menyampaikan pandangan positif tentang prospek ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Perlu dicatat bahwa Francois Villeroy de Galhau, pembuat kebijakan European Central Bank (ECB), memberi sinyal yang menggembirakan bagi kalangan dovish dengan mengatakan pada Selasa bahwa penurunan inflasi dari 10,6% menjadi 2,4% merupakan pencapaian yang mengesankan. Selain itu, data Inggris untuk November memperkuat perkiraan terjadinya resesi di Inggris, sementara petunjuk inflasi dari Jepang dan Australia mengisyaratkan perlunya suku bunga yang lebih tinggi, meskipun pernyataan terbaru para pembuat kebijakan masih belum jelas.
Petunjuk inflasi AS yang belakangan beragam dan pernyataan The Fed membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga pada awal 2024 mundur. Karena itu, Federal Open Market Committee (FOMC) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan saat ini sembari tetap menerapkan suku bunga “lebih tinggi untuk waktu lebih lama”. Hal ini seharusnya menjaga Dolar AS tetap menguat. Namun, keraguan Ketua The Fed Jerome Powell untuk mempertahankan sikap hawkish serta dot plot yang mengindikasikan pemangkasan suku bunga hampir 120 pip selama 2024 mungkin membatasi penguatan dolar AS.
Menjelang pengumuman The Fed, Indeks Harga Produsen (PPI) AS dan data Produksi Industri Zona Euro juga akan menjadi perhatian pelaku pasar.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!