
Emas tampaknya belum siap menembus level penting, setelah pasar logam mulia kembali mengalami pekan yang bergejolak. Meski pelaku bullish menunjukkan minat yang kuat terhadap aset ini, kekuatannya masih belum cukup untuk mencapai rekor tertinggi.
Akhir pekan lalu cukup mudah diprediksi. Setelah emas menguat selama tiga hari, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan dan melampaui $2.050 per ons, aksi ambil untung dengan cepat berujung pada penurunan kembali. Data ekonomi yang baru dirilis berhasil memperkuat sentimen pasar. Investor masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau lebih paling lambat bulan depan.
Kondisi tersebut mendorong harga emas turun pada Jumat, dengan penurunan lebih dari 2% selama sesi trading. Akibatnya, emas kehilangan seluruh kenaikan pada pekan sebelumnya. Namun, logam mulia ini mampu bertahan di atas level support $2.000 per ons meski tekanan jual terus meningkat.
Sederhananya, aset tersebut masih berada di jalur yang tepat sehingga trader optimistis harganya pada akhirnya akan menembus $2.075 per ons. Kabar buruknya, para pakar tidak memperkirakan kenaikan seperti ini dalam waktu dekat. Mereka mengatakan, “Hal itu bisa terjadi suatu saat tahun ini”.



Rilis data ekonomi terbaru mendorong investor untuk lebih cermat dalam menentukan posisi dengan mempertimbangkan penurunan harga konsumen. Sebagian besar trader mencermati tingkat inflasi. Hal ini tidak mengherankan, karena FED saat ini menghadapi ancaman inflasi yang lebih tinggi, seiring kenaikan inflasi tahunan (5% pada Maret), harga konsumen inti yang tidak berubah, dan indeks PPI yang mengikuti tren serupa.
Hambatan utama bagi harga emas untuk mencapai rekor tertinggi adalah ancaman kenaikan suku bunga. The Fed dapat mengambil langkah tersebut pada bulan Mei. Selain itu, kita perlu memperhitungkan berbagai faktor bullish yang membentuk permintaan.
Kabar baiknya, harga logam kuning masih berpeluang menguat karena The Fed mungkin terpaksa menghentikan siklus pengetatan saat ini setelah Mei. Sementara itu, krisis perbankan dan kebijakan moneter AS saat ini mendorong perekonomian ke ambang batas. Paruh kedua tahun ini dapat membawa pemangkasan suku bunga meski inflasi lebih tinggi.
Fakta ini menjadi landasan yang kuat bagi semua pelaku pasar emas.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!